Anakku dan HIV

42-18918741Anak adalah anugerah bagi setiap orang tua. Tentu anda mengharapkan buah hati anda tumbuh dengan sehat. Tetapi bagaimana dengan anak yang terlahir dari ibu terinfeksi HIV ? apakah perawatan dan kesehatannya sama dengan anak lainnya ?
Apakah anak yang lahir dari ibu terinfeksi HIV selalu terinfeksi juga ?
Jawabannya adalah tidak selalu. Bila dari awal sang ibu mengetahui kondisi dirinya dan melakukan tindakan pencegahan dengan meminum obat antiretroviral dan melahirkan secara sectio Caesar, maka kemungkinan anak tidak tertular HIV adalah hampir 99%.
Bagaimana memastikan bahwa anak tidak tertular HIV ?
Anda dapat melakukan pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) pada bayi anda untuk memastikannya, hanya saja tes ini lumayan mahal tetapi akurat.
Bagaimana tumbuh kembang anak ini ?
Bila anak tidak terinfeksi HIV, maka tumbuh kembangnya sama dengan anak normal. Bila anak sudah pasti HIV positif, maka mungkin akan mengalami tiga hal yaitu :

  • Pelanjut cepat yakni anak tertular sejak dalam kandungan sehingga dalam waktu 1-2 tahun akan berkembang ke fase AIDS. Anak ini daya tahan tubuhnya rendah dengan kadar CD4 < 100 (sebelum usia 2 tahun). Biasanya anak akan mengalami gagal tumbuh, ensefalopati, dan atau infeksi oportunistik umum. Anak ini mungkin harapan hidupnya tipis.
  • Pelanjut sedang yakni anak yang tertular saat melahirkan atau menyusui. System kekebalan tubuh mulai rusak secara perlahan-lahan dan menunjukkan gejala pada usia 7-8 tahun dengan gejala pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati) dan penyakit anak yang kambuhan. Harapan hidup anak ini lebih baik.
  • Non-pelanjut adalah anak yang terifeksi HIV tapi tidak berkembang kearah buruk hingga usia 9 tahun.

Bila tidak disertai pengobatan antiretroviral, maka anak memiliki harapan hidup rata-rata pada usia 9 tahun. Hanya saja pengobatan antiretroviral untuk anak masih memiliki banyak kontroversi mengenai untung ruginya.
Apakah ibu yang terinfeksi HIV boleh memberikan ASI pada bayinya?
asi n adis HIV dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya melalui ASI. Penelitian menunjukkan bahwa menyusui ASI memberikan risiko tambahan sekitar 10-14% untuk penularan HIV pada wanita dengan infeksi HIV kronis. Pada negara berkembang, kira-kira sepertiga sampai setengah seluruh infeksi HIV ditularkan melalui ASI.
12-14% bayi yang tidak terinfeksi pada saat lahir mendapatkan infeksi HIV dari ASI ibu yang terinfeksi HIV. Transmisi ini paling sering terjadi pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama kehidupan sang bayi, walaupun dapat juga terjadi kemudian. Penularan ini kemungkinan lebih sering terjadi pada ibu yang memperoleh infeksi pada saat menyusui atau yang memiliki infeksi pada payudara seperti mastitis.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) tidak menganjurkan wanita yang terinfeksi HIV positif untuk memberikan ASI kepada bayi mereka. Namun, WHO merekomendasikan bahwa semua wanita yang terinfeksi HIV diberikan nasihat mengenai risiko maupun manfaat memberikan ASI kepada bayi mereka sehingga mereka dapat membuat keputusan yang bijaksana. Pada negara dimana alternatif menyusui yang aman telah tersedia dan terjangkau, alternatif ini harus digalakkan. Pada umumnya, pada negara berkembang dimana alternatif menyusui yang aman belum tersedia, keuntungan pemberian ASI untuk mengurangi kesakitan dan kematian oleh karena penyakit infeksi lain jauh melebihi risiko potensial penularan HIV.
Pada negara dimana telah tersedia susu formula yang baik untuk bayi dan air yang bersih, ibu yang terinfeksi HIV harus memberikan susu botol kepada bayi mereka. Namun, pada negara dimana terdapat risiko tinggi terjadi malnutrisi dan diare yang disebabkan air yang tidak bersih, keuntungan memberikan ASI pada bayi melebihi risiko penularan HIV.
Selain itu, sebuah studi menyebutkan bahwa interleukin 15 (IL-15) yang terdapat pada ASI dapat melindungi bayi dari penularan HIV selama menyusui.
Apakah anak yang terinfeksi HIV boleh diberikan imunisasi?
Semua anak yang terinfeksi HIV harus mendapat imunisasi dasar, yang meliputi vaksinasi difteri, pertusis, dan tetanus (DTaP); vaksinasi polio yang inaktif; Haemophilus influenzae; Streptococcus pneumoniae; dan hepatitis B. Vaksin yang mengandung virus hidup seperti virus polio oral, varicella, dan measles-mumps-rubella (MMR) dapat mengakibatkan penyakit yang berbahaya pada anak-anak dengan HIV dimana sistem imun mereka terganggu. Namun, vaksin MMR dan varicella direkomendasikan untuk anak-anak dengan infeksi HIV yang sistem imunnya tidak terlalu parah terganggu (pelanjut sedang atau non-pelanjut). Setiap tahun, imunisasi influenza juga direkomendasikan untuk semua anak-anak terinfeksi HIV yang berusia diatas 6 bulan. Namun, efektivitas dari setiap vaksinasi ini berkurang pada anak-anak dengan infeksi HIV. Imunisasi yang sama sekali tidak boleh diberikan adalah imunisasi BCG.
Bolehkah anak mendapatkan terapi antiretroviral ?
Hingga saat ini masih banyak kontroversi seputar untung ruginya memakai antiretroviral pada anak. Sebaiknya anak memulai pengobatan bila terdapat salah satu dari kondisi berikut :

  • Terdapat Gejala klinis HIV
  • Bukti adanya kerusakan pada system kekebalan tubuh tanpa menghiraukan usia atau viral load.
  • Secara ideal, obat dapat diberikan pada semua anak terinfeksi HIV di bawah usia 12 bulan setelah konfirmasi diagnosis HIV pasti.

Sebaiknya anda tetap mengkonsultasikan kondisi buah hati anda pada dokter spesialis anak untuk penanganan yang lebih menyeluruh mengenai menggunakan atau tidak, dosis dan pilihan obat. Kepatuhan anak dalam meminum obat sangat penting untuk keberhasilan terapi sehingga perlu kerja sama orang tua dalam menjaga kedisiplinan anak minum obat. Hal yang paling penting adalah obat antiretroviral tidak menyembuhkan HIV tetapi hanya memperlambat proses penyakit.
Sumber:
http://www.merck.com/mmhe/sec23/ch273/ch273e.html
http://www.niaid.nih.gov/factsheets/hivchildren.htm
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19835475?tool=MedlinePlus

Add Comment