Kiat Hindari Enterobacter Sakazakii Pada Susu Anak

Suatu hari Indonesia dikejutkan dengan sebuah laporan penelitian yang mengungkap kandungan bakteri Enterobacter sakazakii dalam susu formula bubuk untuk bayi. Terlepas dari tidak diungkapnya merk susu formula yang diteliti, seketika itu pula keresahan merebak dan menimbulkan tanda tanya dalam benak banyak orang.
Apa sih Enterobacter sakazakii?
Enterobacter sakazakii adalah bakteri dari genus Enterobacteriaceae. Tempat hidupnya belum diketahui pasti, namun bakteri ini bisa ditemukan di saluran cerna orang sehat sebagai flora yang “numpang lewat”, di saluran cerna hewan, atau di lingkungan sekitar kita. Hmm… jadi di saluran cerna kita bisa saja terdapat bakteri ini..!
Bakteri termakan manusia : apa dampaknya?
Infeksi bakteri E. Sakazakii dapat mengakibatkan infeksi sistemik (sepsis), peradangan pada saluran cerna, selaput otak, atau jaringan otak, terutama pada bayi dan anak usia <1 tahun. Sekitar 20 hingga lebih dari 50% penderitanya meninggal dunia. Sisanya, walau selamat, dapat mengalami gejala sisa berupa gangguan sistem saraf yang sulit disembuhkan. Tidak heran kabar kontaminasi susu formula oleh bakteri ini begitu meresahkan.
E. sakazakii
Di Indonesia sendiri, khususnya di rumah sakit umum pusat nasional Cipto Mangunkusumo, belum dilaporkan adanya kasus infeksi pada bayi yang diakibatkan oleh E. Sakazakii. Sampai saat ini kasus yang dihimpun oleh WHO diantaranya berasal dari Amerika Serikat, Perancis, Belanda, dan Selandia Baru.
Siapa saja yang bisa terkena?
Semua orang, dari bayi baru lahir sampai lanjut usia, dapat mengalami infeksi bakteri E. Sakazakii ini. Namun, berdasarkan laporan kasus yang dihimpun dari berbagai belahan dunia, kelompok yang berisiko tinggi adalah anak-anak berusia di bawah 1 tahun. Dari kelompok ini, neonatus (bayi berusia sampai 28 hari) memiliki risiko tertinggi mengalami infeksi oleh bakteri E. Sakazakii, terlebih lagi neonatus yang lahir kurang bulan, memiliki berat lahir di bawah 2500 gram, atau daya tahan tubuh yang rendah, misalnya bayi dari ibu yang positif HIV.
Lewat mana rutenya?
Walaupun bakteri E. Sakazakii dapat ditemukan pada beberapa jenis makanan, hanya susu formula bubuk yang dikaitkan dengan timbulnya penyakit oleh bakteri ini. Ada 2 rute yang memungkinkan bakteri ini menimbulkan infeksi:

  1. Kontaminasi intrinsik. Kontaminasi bahan baku susu formula, kontaminasi susu formula setelah pasteurisasi, atau kontaminasi saat proses pengepakan.
  2. Kontaminasi eksternal. Kontaminasi karena higiene yang kurang baik saat menyiapkan susu formula sebelum diminumkan atau pada jeda antar pemberian minum.

Pada 50-80% kasus, yang terjadi adalah kontaminasi intrinsik. Sedangkan pada sisanya, 20-50% kasus, higiene yang buruk saat menyiapkan minum merupakan kontributor utama. Berdasarkan rute tersebut, tentu kita dapat memikirkan upaya untuk mencegah infeksi oleh bakteri E. Sakazakii.
Bagaimana langkah pencegahannya?
1. Kriteria mikrobiologis susu formula bubuk.
Perlu diketahui bahwa susu formula bubuk yang beredar di pasaran memang tidak steril, yang artinya mengandung kuman dalam jumlah minimal. Saat ini International Code of Hygienic Practice for Foods for Infants and Children yang dirumuskan oleh Codex Committee for Food Hygiene (CCFH) mengizinkan kandungan 1-10 bakteri koliform, di dalamnya termasuk E. Sakazakii, dalam 1 gram formula. Namun infeksi ternyata tetap terjadi pada konsentrasi E. Sakazakii di bawah batas tersebut. Karena itulah kriteria mikrobiologis perlu diperbarui, khususnya tentang panduan jumlah Enterobacteriaceae yang masih diperbolehkan.
2. ASI eksklusif = terbaik.
Bayi sebaiknya diberikan ASI secara eksklusif (ASI saja, tanpa minuman dan makanan lain) selama 6 bulan pertama kehidupannya. ASI memiliki manfaat yang tidak tergantikan untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan yang optimal pada anak. Setelah usia 6 bulan, ASI sebaiknya tetap diteruskan sampai usia 2 tahun, disertai oleh makanan pendamping ASI. ASI eksklusif merupakan upaya pencegahan infeksi E. Sakazakii yang paling utama, mengingat populasi yang berisiko tinggi adalah anak berusia <1 tahun, khususnya bayi baru lahir sampai usia 28 hari. Jika susu formula bisa dihindari, mengapa tidak?
3. Cermat buka-tutup kaleng susu.
Sebelum membuka kaleng susu formula bubuk, jangan lupa melihat label “baik digunakan sebelum…” atau “expired date”. Jangan gunakan formula yang telah melewati tanggal kadaluarsa, yang kalengnya rusak, bocor, atau menggembung. Singkirkan formula yang bubuknya tampak terkontaminasi atau menggumpal. Setelah dipakai, tutup rapat kaleng susu kemudian letakkan di tempat yang sejuk dan bersih.
4. Bersih tangan, bersih alat, bersih lingkungan.
Menyiapkan susu dilakukan di ruangan yang bersih, setelah sebelumnya tidak lupa mencuci tangan dengan sabun. Botol susu pun perlu dicuci bersih dan disterilkan untuk mencegah kontaminasi dari peralatan yang digunakan.
5. Air panas, bukan air hangat.
Saat ini susu formula bubuk sering diencerkan dengan air hangat. Pada keadaan ini bakteri E. Sakazakii, dengan karakteristiknya yang tahan panas, tentu dapat berkembang biak dengan sangat baik. WHO dan International Food Safety Authorities Network (INFOSAN) menganjurkan air untuk mengencerkan susu formula adalah air mendidih yang telah didiamkan selama beberapa menit untuk mencapai suhu pasteurisasi (70?-90?C). Cara ini terbukti mampu mereduksi jumlah Enterobacteriaceae dalam susu formula, tanpa merusak zat gizi yang terkandung di dalamnya.
6. > 1 jam = buang!.
Walaupun hanya sedikit bakteri kontaminan yang terkandung dalam susu formula, namun bakteri tersebut dapat berkembang biak selama susu formula yang diencerkan “menganggur” di atas meja. Mempertimbangkan hal ini, dianjurkan untuk mengencerkan susu formula secukupnya, diperhitungkan untuk dapat sekali habis. Apabila bayi diberikan susu formula atau ASI dalam botol, susu yang tersisa dalam botol setelah 1 jam harus dibuang.
Setelah membaca uraian di atas, tanyakanlah pada diri masing-masing. Apakah saya perlu bingung, panik, bahkan sampai beralih ke air tajin untuk menghindari susu formula yang “mungkin” kebetulan terkontaminasi?
ASI tetap merupakan satu-satunya makanan terbaik untuk bayi sampai usia 6 bulan. Susu formula merupakan pendamping ASI setelah usia 6 bulan, atau bila ASI tidak dapat diberikan. Apabila ASI atau susu formula diberikan sesuai panduan, tentu juga memperhatikan kebersihan selama menyiapkannya, diharapkan infeksi oleh bakteri E. Sakazakii dapat dicegah. Nah, sekarang masihkah Anda resah? Anda yang tahu jawabannya.
Sumber:
1. Center for Disease Control and Prevention (CDC)
2. Guidelines for Preparation of Formula and Breastmilk in Health Care Facilities.
3. Enterobacter sakazakii and other microorganisms in powdered infant formula: meeting report, MRA Series 6. http://www.who.int/foodsafety/publications/micro/es.pdf
4. Questions and Answers on Enterobacter sakazakii in powdered infant formula. http://www.who.int/foodsafety/publications/micro/en/qa2.pdf

Add Comment